Tahun Ketika Sajadah Mulai di Gunakan

Sajadah diambil dari bahasa arab sajjada artinya sujud. Seperti yang kita ketahui bahwa sujud adalah merupakan bagian gerakan  dari sholat. Namun makna dari kata sajadah ini berkembang seiringnya perkembangan jaman dan perkembangan agama Islam.

Dari fakta sejarah, istilah sajadah sebagai alas sholat baru dikenal pada tahun 133 Hijriyah. Hal ini dikemukakan oleh  As-Sakhâwi beliau mengatakan bahwa sampai tahun 132 hijriyah masjid – masjid masih menggunakan alas langsung dari batu – batu kecil atau tanah tanpa ada karpet yang berfungsi sebagai sajadah.

Bentuk Sajadah Rasul

Alas Sholat Seperti Sajadah Yang digunakan Rasulullah

Namun kain sebagai alas sholat sudah pernah digunakan di jaman Rasulullah. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah ketika beliau ditanyai oleh salah satu muridnya mengenai hukum Sajadah.

Beliau menceritakan riwayat tentang Nabi Muhammad yang sedang sholat dan dibawahnya ada alas kain sholat bercorak dan kemudian rasullullah menggantinya dengan kain polos.  Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menceritakan pada muridnya dengan menyertakan hadist sebagai berikut :

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh HR Bukhari dan Muslim yang diriwayatkan dari hadits Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi

اذْهَبُوا بِخَمِيصَتِي هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَأْتُونِي بِأَنْبِجَانِيَّةِ أَبِي جَهْمٍ فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلَاتِي

Bawalah kain ini ke Abu Jahm dan bawakan kepadaku kain milik Abu Jahm yang tidak bercorak, karena kain yang bercorak tersebut sempat melalaikanku dari shalatku (mengganggu kekhusyu’anku)

Disini terlihat jelas bahwa sajadah seperti saat ini belum ada jaman rasul. Menurut riwayat hadits diatas, rasul hanya menggunakan kain polos sebagai alas sholat. Apakah setiap saat rasul menggunakan alas sholat ketika sholat? untuk lebih lengkapnya kamu bisa simak di artikel yang berjudul Hukum Sholat Menggunakan Sajadah 

Syaikh Murtadâ Az-Zubaîdî di dalam kitabnya Ittihaful Muttaqin berkata : ” Musallî hendaknya tidak melakukan salat di atas sajadah atau permadani yang bergambar dan dihiasi dengan beragam gambar yang menarik. Karena hal itu membuat si musâlli tidak khusyu’ di dalam salatnya, karena perhatiannya akan tertuju pada warna-warni sajadah itu

Bentuk Sajadah Kuno

Bentuk Sajadah mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan zaman. Ada yang cuma untuk alas muka saja dan ada yang panjang lebarnya dari kepala hingga ujung kaki. Dari segi motifpun juga mengalami pergeseran trend. Sajadah pada abad ke 7 sampai abad ke 18  lebih bercorak ke seni lukis abstrak.

Semua gambar sajadah diatas merupakan  sajadah kuno yang  terdapat pada abad ke 7 hingga 18. Diantaranya ada yang berasal dari kerajaan turki ostmani ottoman dan ada yang berasal dari kerajaan Romawi.

Ibnu Batutah mengatakan di dalam kitabnya Rihlah Ibnu Batutah berkata : ” Orang-orang pinggiran kota Kairo Mesir telah terbiasa keluar rumah mereka untuk pergi melakukan salât Jum’at. Para pembantu mereka biasanya membawakan sajadah dan menghamparinya untuk keperluan salât mereka. Sajadah mereka itu terbuat dari pelepah-pelepah daun korma”.

Ibnu Batutah juga mengatakan” penduduk kota Mekkah pada masa ini (pada masanya Ibnu Batutah, sekitar abad ke ke 14 tahun 1300 an) melakukan salat di Masjid Jâmi’ dengan menggunakan sajadah.

Kaum muslimin yang pulang haji banyak membawa sajadah buatan Eropa yang bergambar (ada yang bergambar salib) dan mereka tidak memperhatikan gambar tersebut. Sajadah masuk ke Mesir dengan jalan impor dari Asia untuk dipakai salat oleh orang-orang kaya, di dalam sajadah itu terdapat gambar mihrab yang mengarah ke kiblat.

Dilihat dari perkataan ibnu batutah tersebut maka jelas  bahwa sebenarnya adalagi bentuk sajadah kuno yang lebih kuno yaitu yang terbuat daru pelepah daun korma. Tim jurnalis Seputar-putar  mencoba mendapatkan gambar sajadah kuno yang terbuat dari pelepah kurma ini namun tidak satupun ditemukan.

Bentuk Sajadah Masa Kini

Bentuk sajadah pada masa kini memliki luas yang hampir seragam yaitu panjang dan lebarnya dari ujung kepala himgga ujung kaki, baru akhir akhir ini saja ada sajadah yang hanya untuk kepala saja. Ditinjau dari segi design sajadah masa kini memiliki dua jenis design yaitu sajadah motif dan sajadah polos. Berikut ini akan dijelaskan lebih detail sajadah motif dan sajadah polos pada masa kini

Sajadah Motif

Berbeda dengan sajadah motif pada jaman dulu yang didominasi oleh motif abstrak yang tidak berbentuk apapun, sajadah masa kini lebih banyak didominasi oleh gambar kabah dan masjid.

Sajadah motif masa kini juga ada yang menggunakan corak abstrak yang menjurus ke membentuk suatu gambar. Hal inilah yang harus anda waspadai.

Jika corak motif abstrak yang membentuk bangunan masjid tidak apa – apa tapi bagaimana jika corak abstrak ini berbentuk suatu gambar yang dilarang oleh agama kita?. Lihat artikel yang berjudul Sajadah Motif Berbahaya untuk mewaspadai motif sajadah yang sedang anda gunakan atau akan anda beli.

Berikut adalah beberapa sajadah motif yang telah beredar di pasaran :

 

Sajadah Polos

Tim jurnalis seputar -putar berusaha untuk menemukan fakta tentang kapan munculnya ada sajadah polos ini di Indonesia. Namun hal ini ternyata tidak bisa terungkap secara pasti kapan tepatnya sajadah polos masuk ke Indonesia.

Penyebab maraknya sajadah motif berbahaya bisa jadi adalah salah satu faktor munculnya sajadah polos sebagai bentuk perlawanan terhadap oknum yang ingin mengganggu kaum muslim.

Berikut adalah beberapa foto sajadah polos yang ada di pasaran.

Sekarang anda telah memiliki informasi, referensi, dan pertimbangan mengenai sajadah yang akan anda gunakan untuk sholat . Mau Pilih Sajadah Polos atau Sajadah Motif ? semua tergantung dari anda yang penting adalah anda tetap sholat mau pakai sajadah atau tidak. Karena hukum sholat menggunakan sajadah tidak wajib.

Sajadah hanyalah alat sholat yang berfungsi sebagai alas ketika sedang sholat agar lebih suci dan lebih bersih. Jika lantai sudah bersih tak menggunakan sajdah pun tak apa.